Minggu, 01 November 2015

A Game of Thrones - George R. R. Martin

goodreads
Judul: A Game of Thrones (A Song of Ice and Fire #1) (1996)
Judul terjemahan: Perebutan Takhta
Pengarang: George R. R. Martin
Penerjemah: Barokah Ruziati
Penerbit: Fantasious
Terbit: Cetakan ke-1, Maret 2015
Tebal: 964 hlm
Genre: Fantasy
ISBN 978-602-0900-29-2
“Saat memainkan perebutan takhta, pilihannya adalah menang atau mati. Tidak bisa setengah-setengah.”—p.545
Kematian Tangan Kanan Raja, Jon Arryn, meresahkan keluarga Stark. Jon Arryn adalah suami dari Lysa Tully, adik dari Catelyn Tully, istri Eddard Stark. Tapi bukan hubungan darah itu saja yang meresahkan Lord Stark. Tidak lama setelah berita kematian itu datang, Raja Robert Baratheon datang mengunjungi kastelnya di Winterfell, dan meminta Eddard Stark untuk menjadi Tangan Kanan barunya. Keluarga Stark bukan orang yang haus kekuasaan, Eddard Stark sudah hampir menolak tawaran itu, sampai Lysa mengirimkan surat pada Catelyn, ia curiga Jon Arryn di bunuh oleh keluarga Lannister, keluarga Ratu. Rupanya permasalahan ini lebih daripada sekedar pembunuhan, perebutan takhta di mulai ... lagi.

Bertahun-tahun lalu, Tujuh Kerajaan dipimpin oleh Aerys Targaryen, namun raja yang dijuluki Raja Gila itu akhirnya berhasil digulingkan oleh gabungan klan-klan besar di Tujuh Kerajaan. Tapi, rupanya klan Targaryen belum sepenuhnya musnah, Ratu Rhaelia yang sedang hamil berhasil melarikan diri dengan salah satu putranya, Viserys. Namun sang ratu juga meninggal setelah melahirkan putri bungsunya, Daenerys. Kakak beradik sebatang kara ini hidup berpindah-pindah dan bergantung pada orang-orang yang mengaku masih setia pada Targaryen, sampai Viserys melihat sebuah kesempatan. Ia ‘menjual’ adiknya pada Khal Drogo dari bangsa Dothraki, dan hanya butuh waktu sampai Khal Drogo ‘membayar’ dengan membantunya merebut kembali Takhta Besi.

Sementara itu, Jon Snow putra haram Eddard Stark menuntut kehormatan dengan bergabung dengan Garda Malam. Melindungi Tujuh Kerajaan dari serangan dari Utara, dari Makhluk Lain. Rupanya tugasnya tidak seperti yang ia kira, jauh lebih sulit. Setelah bertahun-tahun musim panas melingkupi Tujuh Kerajaan, musim dingin akan datang. Dan monster-monster mengerikan menyertainya.
“Bisakah seseorang tetap berani jika dia takut?”
“Hanya saat itulah seseorang bisa berani,” ujar Ayah.—p.4
Saya pertama kali mengenal A Game of Thrones sebagai salah satu serial tv yang amat sering dibicarakan dalam situs 9gag. Jon Snow, Khaleesi dan Tyrion Lannister menjadi tokoh favorit yang paling sering di bahas. Oh, dan kekejaman George R. R. Martin, itu juga menjadi isu tersendiri. Dan ketika akhirnya mendapatkan buku ini dari sebuah giveaway, saya gak bisa gak seneng (thanks mbak Bzee!) karena akhirnya bisa tau apa sebenarnya yang terjadi dalam buku yang ketebalannya subhanallah ini.

Buku ini menguras perasaan dan pikiran. Kisah-kisah yang mengajarkan orang baik akan selalu menang jadi terdengar seperti omong kosong. Orang baik akan menang jika punya kekuatan dan akal sehat. Mereka yang tidak memilikinya akan terjebak pengkhianatan dan mati. Dan George R. R. Martin sangat adil dalam membunuh karakter-karakternya dan cukup licik untuk menimbulkan harapan dan menjatuhkannya lagi. Kemudian pembaca dipaksa puas dengan akhir tak terduga yang menuntut kelanjutan. Oh why! Saya tidak bisa benci dengan fakta tersebut, ini membuat bukunya makin keren.

Gaya berceritanya juga enak dibaca, pemenggalan buku ini dibagi berdasarkan bab-bab yang menuliskan nama tokoh yang diambil sudut pandangnya. Bukan berarti sudut pandangnya berubah-ubah, sudut pandangnya tetap orang ketiga, tapi begitu lah. Setiap akhir bab selalu diselesaikan dengan dramatis, tapi bab selanjutnya pasti membahas mengenai hal lain. Setting yang melompat-lompat ini memaksa saya untuk terus penasaran dengan apa yang terjadi selanjutnya dan selanjutnya. Ide brilian.

Saya cukup tertolong dengan pejelasan silsilah keluarga klan di halaman belakang walau masih sedikit pusing dengan tokoh yang luar biasanya banyak, belum julukan-julukannya. Sementara itu Glosariumnya gak terlalu berguna sebenarnya, mungkin akan berbeda kalau istilah-istilah dalam buku di tulis dalam buku, atau kalau daftar istilahnya ditulis dari Bahasa Indonesia ke bahasa aslinya.

Tapi selain itu, saya harus mengakui kalau saya benar-benar tenggelam dalam kisah menakjubkan dengan world building amat nyata ini.
“... pikiran butuh buku sebagaimana pedang butuh batu asah, jika ingin tetap terjaga ketajamannya.”—p.126

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...