Rabu, 24 Februari 2016

Konstantinopel - Sugha

Judul: Konstantinopel
Pengarang: Sugha
Penerbit: DIVA Press
Terbit: Cetakan ke-1, April 2015
Tebal: 272 hlm
Genre: Thriller & Mystery, Crime

Ditengah hiruk pikuk pemilu 2011, seorang caleg terpilih, Ine Wijaya ditemukan tewas dalam kecelakaan kereta. Namun anehnya, saat pemeriksaan jenazah, jari kelingking kiri korban hilang. Beberapa waktu berikutnya Sandra Sienna Dewi yang merupakan Staf DPR juga meninggal dalam kebakaran yang menewaskan seluruh keluarganya. Lagi-lagi dengan jari kelingking yang hilang. Kesamaan lain dari dua korban itu adalah, keduanya dikenal sebagai sahabat Cinta Clarissa, putri angkat Presiden yang sedang menjabat—Rukmawan. Tak ingin kasus itu melibatkan Cinta, Pak Rukmawan meminta bantuan Badan Intelijen Negara (BIN) untuk membuat pengawalan.

Disisi lain, Putra Bimasakti, lulusan terbaik Sekolah Tinggi Sandi Negara baru saja bekerja sebagai asisten wakil kepala BIN, dan karena terlambat di hari pertamanya bekerja dihukum untuk mengawal Cinta. Saat sedang melakukan tugasnya itu, Bima bertemu dengan Roman Abdurrahman, wartawan Channel-9 yang terkenal hobi membuat kritikkan pedas tentang kebijakan Presiden. Darinya pula ia tau mengenai kehidupan rumit orang-orang kaya.

Tujuh mahasiswa Indonesia belajar bersama di Universitas Istanbul, Turki. Mereka adalah Ine, Sandra, Roman, Cinta, Januar (pacar Cinta, calon pewaris Tan Corp, perusahaan distributor elektronik terbesar di Indonesia), Juan (putra Sunnu Sandjaya, capres dari partai oposisi), dan Felix (putra Relly Marpalele yang tersangkut kasus pajak 200 M). Rasa sama-sama orang Indonesia membuat mereka bersahabat bahkan membentuk nama untuk mereka sendiri, Konstantinopel. Tetapi ketika kembali ke Indonesia, kepentingan politik membuat hubungan masing-masing mereka renggang. Kemudian, Roman tewas, ditembak penembak jitu. Semakin jelas bahwa ini pembunuhan berantai yang mengincar nyawa Konstantiopel, tapi kenapa?

Saya jarang baca thriller lokal, paling seri misteri favorit kiddo, jadi agak berekspektasi rendah untuk buku ini. Dan saya gak sepenuhnya salah. Banyak kesalahan teknis yang menganggu, typo sih hampir gak ada, hanya saja saya gak suka sama penggunaan kata ganti orang pertama dan kedua yang gak konsisten, dari ‘aku’ tiba-tiba jadi ‘saya’. Sebenernya gak masalah kalau misalnya orang yang bilang aku dan saya itu menghadapi orang yang berbeda, lagi ngomong resmi dan gak resmi misalnya, tapi ini nggak. Terus,—tapi kayaknya ini cuma salah cetak—kok judul di covernya Konstantinopel tapi di bookmarknya Constantinopel.

Ngomong-ngomong soal cover, pasti lebih bagus kalau bagian belakangnya juga merah atau seenggaknya bagian depan dan belkangnnya sama, jadi gak mencong pas bagian perbatasan punggung buku sama bagian depan.

Beberapa hal dari ceritanya juga masih menggangu. Emang intel negara begitu ya? Gak tau apa-apa gitu. Contohnya aja pas bagian ada pesan bahasa asing dari pembunuhnya, kok bisa-bisanya polisi belum tau isi pesannya apa cuma gara-gara gak tau itu bahasa apa, google translate laah, apa google translate belum ada tahun 2011? Tapi, saya ngerti sih hal itu buat kepentingan menyudutkan pelaku.

Tapi plot kan lebih penting daripada hal teknis kan? Untungnya ide cerita buku ini keren. Saya suka sama gaya berceritanya yang komikal dan penempatan isu politik yang bikin ceritanya makin rumit, yang akhirnya bikin saya gak bisa berenti baca buat tau siapa pembunuhnya, penempatan petunjuk yang samar-samar dan hering merah di mana-mana bikin buku ini punya twist yang menarik, walau akhirnya tertebak juga.

Dan Bima, karakter Bima yang pintar dan pemberani ini mudah sekali dapat simpati pembaca. Apalagi dengan pembulian yang ia alami di BIN. Pasti akan lebih menarik jika diceritakan lebih lanjut bagaimana nasib pekerjaannya kemudian. Bima juga nampaknya kurang beremosi, misalnya saja waktu di sadar telah ditipu Pak Catur, kok bisa-bisanya bercerita analisisnya lagi pada pak Catur tanpa khawatir? Sepertinya penulis memang menganut paham ‘emosi bisa mengacaukan penyelidikan’ dan ‘logika diatas segala-galanya’, untungnya sebagai penggantinya kita disajikan dengan adegan-adegan aksi ala James Bond—walau saya masih berangapan kalau ‘ninja’ itu agak gimana gituu—yang bikin bukunya makin seru serta informasi forensik yang menambah wawasan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...