Selasa, 03 Januari 2017

The Girl On The Train - Paula Hawkins

Judul: The Girl On The Train
Pengarang: Paula Hawkins
Penerjemah: Inggrid Nimpoeno
Penerbit: Noura
Terbit: September 2014
Tebal: 440 hal
“Satu berarti penderitaan, dua berarti kebahagiaan, tiga berarti bocah perempuan. Tiga berarti bocah perempuan. Aku tertahan pada tiga, aku tidak bisa melanjutkannya lagi. Kepalaku dipenuhi suara, mulutku dipenuhi darah”—p. 403


Kehidupan Rachel Watson  bisa disebut membosankan kalau tidak boleh dikatakan sudah hancur. Masalahnya dengan alkohol pada menyebabkan berakhirnya kehidupan rumah tangganya dengan Tom, hilangnya pekerjaan serta rusaknya hubungan ia dengan orang-orang. Dalam rutinitasnya pergi bolak-balik London-Ashbury dengan naik kereta, ia tidak bisa menghindari rumah lamanya dengan mantan suaminya di Witney. Jadi sebagai pengalih perhatian, ia memandangi sebuah rumah yang terpisah empat pintu dari rumahnya.

Rachel sama sekali tidak kenal dengan pasangan suami-istri itu, tapi dia punya imajinasi. Di namai olehnya mereka berdua sebagai Jason dan Jess, dan dia membayangkan bagaimana kehidupan rumah tangga mereka yang bahagia dan menyenangkan. Rachel sama sekali tidak kenal pasangan suami-istri itu, tapi setiap hari melihat mereka menimbulkan semacam perasaan terikat yang aneh pada dirinya. Karena itulah ia merasa murka ketika Jum’at itu, ia melihat Jess di terasnya, minum kopi seperti biasa tapi mencium laki-laki lain yang bukan suaminya.

Sebuah luka lama, ingatan perselingkuhan Tom-lah yang membuatnya semakin berang. Mungkin itu sebabnya, pada hari Sabtu malam itu dia mabuk di Witney. Dan menjadi lebih kacau daripada biasanya.

Seperti biasa, dia tidak ingat apa-apa ketika mabuk. Tom bilang dia keluyuran di Witney dan berkata agar Rachel jangan dekat-dekat dengan keluarganya lagi, keluarga kecil barunya. Tapi keluyuran saja tak akan membuat kepalanya terluka dan tubuhnya memar-memar kan? Terjadi sesuatu pada Sabtu itu, dan mungkin itu penting. Sebab kemudian Rachel melihat berita tentang menghilangnya Megan Hipwell—yang tak lain adalah ‘Jess’ yang selalu ia lihat—pada Sabtu malam, dan dia merasa, mungkin dirinya ada hubungannya, atau dia ingin agar ia ada hubungannya?

"Mustahil ada penderitaan yang lebih besar, tidak ada sesuatu pun yang lebih menyakitkan daripada ketidaktahuan, yang tak kunjung berakhir."--p. 196

Saya rasa, yang membuat buku ini begitu spesial adalah ketiga tokoh wanitanya.

Menggunakan tiga sudut pandang pertama yang berbeda, pembaca dibawa menelusuri alur cerita yang seperti roller coaster yang sedang bergerak naik. Dari sudut pandang Rachel dan Anna, kita menghadapi masa kini, periode sesaat sebelum dan sesudah Megan hilang dan mempelajari tokoh-tokoh lainnya yang mungkin tak seperti yang mereka bayangkan. Dari sudut pandang Megan, kita mempelajari bagaimana akhirnya wanita itu bisa terbunuh, motif macam apa yang mungkin jadi dasarnya dan siapa kemungkinan pelakunya. Kedua masa sudut pandang ini saling beriringan, melengkapi dan membuat klimaks ceritanya terasa dua kali lipat.

Walau memang pada awalnya terasa membosankan. Gaya berceritanya begitu penuh kegelisahan tokoh-tokohnya, seperti buku harian yang penuh detil-detil yang terasa tidak penting. Tapi, bisa ditebak, kegelisahan mereka memberikan petunjuk secara subtil tentang apa yang sebenarnya sedang terjadi.

Dan apakah seperti kisah thriller ini menyajikan twist yang hebat? Saya sendiri tidak yakin. Saat diberitahu siapa pelakunya, saya tidak terkejut. Rasanya, hal itu memang tidak ditutup-tutupi. Apalagi dengan red-herring yang lemah dan tokoh yang sedikit. Tapi ini bukan berarti buruk. Justru dengan kesadaran para pembaca siapa ‘monster’nya sejak sebelum para tokohnya tau, itu menciptakan ketegangan lain, rasa takut tentang apa yang akan terjadi, dan itu jadi pemikat tersendiri.

Yah, kisah misteri yang mendebarkan.

Hal lain yang menjadi pendamping genre misteri yang juga menarik adalah, kesamaan ketiga tokohnya. Bagaimana ketiganya punya hal sentimen mengenai anak.

“perempuan masih benar-benar dihargai untuk dua hal saja—tampang mereka dan peran mereka sebagai ibu”—p.  105

Rachel ingin punya anak, dan saat tau ia mandul, ia depresi. Megan, tidak mau punya anak, sebab sebuah trauma masa lalu. Anna punya anak, kadang ia terpikir soal hal-hal yang terenggut dari hidupnya karena itu tapi dia tidak menyesal. Dan bagaimana hal ini begitu memengaruhi mereka, dan sebenarnya menjadi alasan tergeraknya cerita, yaah rasanya jadi kepikiran. 


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...