Rabu, 18 Maret 2015

Bulan - Tere Liye

Judul: Bulan
Pengarang: Tere Liye
Ilustrasi: eMTe
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Terbit: Cetakan ke-2, Maret 2015
Tebal: 400 hlm
ISBN: 978-602-03-1411-2
Genre: Fantasy 
SPOILER ALERT

Review ini mengandung spoiler dari buku pertamanya, Bumi.
“Aku lupa, kompetisi ini bukan soal menang atau kalah, tapi tentang kita, tim kita, yang saling membantu, saling menolong, dan setia kawan” p.313
Akhirnya setelah setahun menunggu. Buku kedua dari serial Bumi terbit juga. Saya tidak bisa mendeskripsikan betapa senangnya saya. Awalnya saya berencana membeli buku ini tepat pada hari peluncurannya, 12 Maret. Sayangnya di CiWalk saya tidak menemukan toko buku, sehingga saya harus menunggu pada hari Sabtunya agar bisa membeli buku ini.

Seperti dugaan saya, meskipun judulnya Bulan, tapi kisah dalam buku ini samasekali tidak ada hubungannya dengan itu, sama seperti Bumi. Malah, seperti yang dikatakan penulisnya setting buku ini lebih banyak di Klan Matahari. Juga, meski blurbnya mengenai Seli, tokoh utamanya tetaplah Raib.

Sudah enam bulan sejak kejadian di Perpustakaan Sentral, Klan Bulan. Sudah enam bulan pula Miss Selena menghilang, mendapat tugas dari Av, menyelidiki banyak hal. Ali sudah sangat bosan menunggu, Ra menjadi sangat sensitif dan Seli mulai khawatir. Mereka tahu-sama-tahu kalau petualangan mereka tidak akan berakhir disini dan harap-harap cemas menunggu Miss Selena kembali untuk memberi petunjuk selanjutnya.

Hingga akhirnya Miss Selena kembali, bahkan membawa kabar amat baik. Av berhasil membujuk kawan lamanya, seorang konsil dari Klan Matahari agar masyarakat Klan Bulan dapat berdiplomasi lagi dengan mereka. Agar mereka bisa bersekutu lagi dan bersiap kalau-kalau Tamus akan memicu perang yang sama dengan dua ribu tahun lalu. Maka atas dasar itu, Av berencana membuka portal ke Klan Matahari dan membahas hal ini lebih lanjut dan satu-satunya orang yang bisa membuka portal itu adalah Raib.

Bagi Ali ini akan menjadi petualangan yang seru, Seli sangat senang karna ia bisa kembali ke tanah leluhurnya, sementara Ra sendiri agak ragu. Seperti kata Miss Selena, perjalanan ini mungkin berbahaya.

Benar saja, saat mereka tiba disana, rupanya Klan Matahari sedang merayakan festival bunga matahari. Semacam kompetisi untuk mencari bunga matahari yang pertama kali mekar di seluruh negeri. Kompetisi ini diikuti oleh sembilan fraksi, masing-masing mengirim empat pemuda terbaik mereka, karena siapapun yang berhasil memetik bunga matahari pertama itu, ia akan mendapatkan posisi penting dalam kehidupan politik, dan ternyata bukan itu saja.

Bahaya yang menghadapi Ra saat ini adalah, ia yang baru saja sampai disana tiba-tiba diminta menjadi kontingen ke sepuluh. Menjadi peserta festival bunga matahari, melakukan petualangan paling berbahaya sejak beratus-ratus tahun lalu. Masalahnya adalah mereka tidak punya pilihan, diplomasi ini akan gagal seandainya Ra menolak ikut.

Akhirnya Ra memutuskan untuk ikut, bersama Seli, Ali dan Ily, putra Ilo yang pernah membantunya di Klan Bulan. Untungnya Ra dkk mendapat kemudahan dalam kegiatan ini. Mereka diberikan petunjuk yang menunjukkan dimana petunjuk pertama (?), mereka juga diberikan tunggangan; harimau salju, hewan asli dari Klan Bulan dan mereka juga diberikan pilihan persenjataan.

Seperti yang dikatakan, perjalanan ini bukanlah hal mudah. Sejak pertama kali mereka keluar kota Ilios yang super canggih, mereka sudah dihadapkan dengan medan menantang. Masyarakat Klan Matahari mempunyai hutan yang lebih subur dari yang dimiliki Klan Bulan. Setelah itu mereka masih harus melawan hewan-hewan buas, tempat-tempat berbahaya dan bahkan kelicikan peserta lain.

Lebih besar lagi masalah yang mereka dapatkan ketika mereka menemukan bunga matahari itu. Karena lagi-lagi ternyata ini semua adalah rencana matang dari seorang yang haus kekuasaan, dan Ra menjadi kunci penting untuk rencananya itu. Membebaskan si Tanpa Mahkota.


Inti buku ini memang tentang  petualangan Ra dalam kompetisi festival bunga matahari, sehingga tidak mengherankan banyak sekali adegan bertarung yang membuat buku ini semakin seru. Meski begitu deskripsi tempat-tempat yang mereka lalui memang membosankan.

Karakterisasi tiap tokoh juga semakin kuat. Ali semakin menyebalkan, bukan hanya terhadap Ra, tapi semua orang. Namun ia tetap genius seperti biasanya, dan saya selalu suka dengan selera humornya; Seli yang polos dan setia ; dan Ra, meski ia dibilang cerewet oleh Ali, tetap saja ia adalah pemerhati yang baik.

Satu tokoh lagi yang tak kalah penting, Ily. Ia dideskripsikan sebagai seorang kakak yang baik serta disiplin, berani, kuat dan cerdas. (ia pernah belajar di akademi) perannya dalam buku ini sukses buat saya sakit hati dengan penulisnya. Ngomong-ngomong soal Ily, apa hanya saya yang sadar—setelah baca buku ini—kalau nama keluarga Ilo memang unik? Ilo, Vey, Ou, Ily

Ending buku ini tidak jauh berbeda dengan Bumi, dan saya mengira akan membosankan karna saya sudah tau rahasia Ali. Tapi bahkan Ali tidak dapat mengalahkannya. Maka dimulailah kejutannya, kejutan yang bukan hanya melegakan tapi juga menyakitkan.

Saya sebenarnya agak bingung dengan setting waktu di kedua buku ini. Bulan bersetting di musim ulangan akhir semester, hal ini berarti bulan Desember. Tetapi disebutkan pula bahwa itu adalah akhir dari musim hujan, dimana seharusnya ada dibulan Maret. Enam bulan lalu adalah kejadian Bumi, anggaplah itu bulan Juli, tetapi di Bumi disebutkan bahwa saat itu sudah dua bulan sejak tahun ajaran baru maka seharusnya bulan September (dan ini cocok dengan musim pada buku tsb) Oke anggaplah September dan Maret adalah benar dan ulangan yang di maksud adalah ulangan tengah semester, bukan ulangan akhir semester. Masalahnya pada akhir ulangan tengah semester tidak akan libur dua minggu.

Keunggulan lain dari buku ini adalah adanya peta dari Klan Matahari, memang tidak detail sih tapi amat membantu. Meski begitu, disisi lain peta ini juga jadi spoiler, saya jadi tahu kemana mereka menuju selanjutnya tanpa menunggu pemecahan petunjuk yang seharusnya. Kecuali petunjuk terakhir, ya untungnya yang satu itu tidak dipengaruhi oleh peta.


Mengenai hubungan buku ini dengan Bumi. Ada banyak perkembangan, percakapan disini lebih luwes dalam arti tidak sekaku Bumi—meski saya menyukainya. Selain itu penyebutan guru juga tidak lagi bergaya buku terjemahan yang menuliskan Mr, atau Miss. Melainkan dengan Pak atau Bu sesuai kebiasaan masyarakat Indonesia, dan saya rasa ini merupakan perkembangan baik. Meski begitu ada juga perubahan yang menganggu. Bagi saya perkembangan Ra dan Buku Kehidupan yang nyaris jag-ujug bisa berkomunikasi itu aneh sekali.

Selain itu, sedikit banyak pertanyaan di buku Bumi sudah terjawab. Mengenai orang tua Seli, alasan kenapa Ra suka sekali dengan pelajaran bahasa, kekhawatiran pembaca terhadap Tamus. Memang tidak semua pertanyaan sih, seperti siapa orang tua Ra yang sebenarnya, kenapa mereka bisa mengalami kecelakaan pesawat dll. Tapi, jujur saja, saya lebih penasaran dengan keluarga Ali daripada Ra. Masih menjadi misteri kenapa orang tua Ali bisa tidak peduli dengan anak supercerdas sekaligus bermasalah, dan masih menjadi misteri kenapa Ali bisa menjadi beruang.
“Semua ada penjelasannya. Jika kita tidak mengerti penjelasannya, bukan berarti itu menjadi hantu, sihir dan sebagainya” p. 152
Dan mengenai perbedaan dunia. Klan Bulan dan Klan Matahari memang sangat berbeda. Baik dari sisi kebudayaan, seperti warna pakaian atau bentuk rumah; ataupun tekhnologi.
“Ayo, kalian bisa memilih yang mana pun kalian suka. Lihat, ini pakaian pemanah terbaik. Dibuat dari serat kuat, berwarna kuning pucat, cocok sekali. Atau ini untuk kamu yang berbadan tinggi gagah. Pakaian petarung dengan tameng berwarna pink. Bagus, bukan?” p. 93
Dalam sistem penaman juga, jika Klan bulan menggunakan nama-nama yang cenderung singkat. Klan matahari sebaliknya. Sebenarnya saya curiga kalau sistem penamaan ini menuliskan nama orang tua—seperti bin/binti di bumi—tapi lewat garis keturunan ibu. Ini karena ada seorang anak dari Hana-tara-hata yang bernama Mata-hana-tara. Meski begitu rasanya agak aneh karna hampir semua tokoh mempunyai nama tara sebagai nama tengah mereka. Mungkinkah ada masa dimana semua ibu Klan matahari menamai putrinya dengan nama Tara? *ngawur

Klan Matahari mempunyai tekhnologi yang lebih maju dari Klan Bulan apalagi Klan Bumi. Meski begitu, tekhnologi ini hampir hanya dimiliki Kota Ilios. Permainan politik membuat daerah lain justru tertinggal. Tekhnologi mereka tidak jauh berbeda dengan yang Klan Bumi miliki. Awalnya saya kira, poin ini menjadi kekurangan buku ini karena penjabaran tentang betapa majunya Klan Matahari jadi sedikit. Untungnya, ketimpangan ini bukan tanpa alasan dan masih punya kaitan erat dengan ceritanya sendiri.
“Aduh, sepertinya hanya aku yang memperhatikan hal-hal kecil dalam petualangan ini. Kalian sama seperti pembaca novel yang kadang tidak memperhatikan detail, kemudian protes kenapa begini, kenapa begitu. ...” p. 296
Secara keseluruhan, saya senang sekali membaca buku kedua dari Bumi ini. Seolah bertemu kawan lama, apalagi Tere Liye adalah salah satu pengarang favorit saya. Tetapi disaat yang sama, saya kecewa. Kisah yang baca ini tidak seperti yang saya bayangkan. Bahkan meskipun sudah menyiapkan mental sebelum membacanya, hal itu tetap tidak membantu. Mungkin benar kata orang, buku pertama selalu lebih seru dari buku kedua, ketiga, dst.

Tapi, ini tetap buku yang bagus, dengan kisah yang menarik dan banyak pemahaman tentang kehidupan dan saya tetap tidak sabar untuk membaca Matahari yang akan terbit 2016 nanti ;)
Sungguh ada banyak hal di dunia ini yang bisa jadi kita susah payah menggapainya, memaksa ingin memilikinya, ternyata kuncinya dekat sekali: cukup dilepaskan, maka dia datang sendiri. Ada banyak masalah di dunia ini yang bisa jadi kita mati-matian menyelesaikannya, susah sekali jalan keluarnya, ternyata cukup diselesaikan dengan ketulusan, dan jalan keluar atas masalah itu hadir seketika. p. 209



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...